10 April 2013

Pelatihan Pengolahan Pakan Ternak dengan Fermentasi

Di Lingkungan RW. 05 Jinggan mempunyai Kelompok Tani Ternak RUKUN TANI yang mencoba untuk memberdayakan anggotanya. Kelompok Tani Ternak RUKUN TANI dipimpin oleh Bp. Sudaryanto sudah mengelola kambing bantuan dari Pemda Provinsi Jawa Tengah sebanyak 20 ekor. Guna meningkatkan potensi ternak di Jinggan, pada hari Minggu 7 April 2013 Kelompok Tani Ternak RUKUN TANI menyelenggarakan pelatihan Pengolahan Pakan Ternak dengan cara Fermentasi. Pengolahan model fermentasi ini akan memberikan kemudahan kepada petani dalam menyediakan pakan ternak antara lain petani dapat merumput 15 hari sekali, kandang tidak berbau, asupan gizi ternak terpenuhi dan bahan yang dipakai dapat menggunakan sampah organic dan dedaunan. Sehingga secara ekonomis petani dapat mengurangi beban biaya pakan.dan meningkatkan produktifitas ternaknya. Dengan cara pemberian pakan biasa seorang petani yang menggarap sawah dapat memelihara kambing paling banyak 15 ekor. Dengan pengolahan pakan fermentasi petani bisa memelihara sampai 50 ekor dan masih dapat banyak waktu luang untuk mengerjakan sawahnya.
Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan di Balai RW. 05 Jinggan untuk paparan presentasinya dan di kandang komunal untuk prakteknya. Selaku pembicara adalah Bp. Sukradi dari Wonosobo. Bp. Sukradi adalah seorang PNS / PPL yang dalam kesibukannya mampu memelihara 27 ekor kambing dirumahnya di Perumahan Medis Kalianget Wonosobo tanpa kerepotan untuk mencari pakan ternak dan tidak mengganggu tetangga.
Untuk starter atau biang fermentasi , Bp. Sukradi berhasil membiakkan sendiri dirumah yang mempunyai keistimewaan antara lain :
  1. Bahan yang difermentasi hanya di peram (di imbu) hanya selama 4 hari, sedangkan merk yang dipasaran antara 15 – 21 hari.
  2. Bahan baku pakan tidak ada batasannya, yaitu diutamakan yang ada disekitar antara lain jerami, kulit ketela, kulit karika (papaya), sampah dedaunan yang kering, serbuk bekas gergajian sengon, pohon pisang , kulit kopi, kulit duren dan lainnya serat tidak mengharuskan adanya tambahan bekatul dan ampas tahu. Sehingga menjadi murah dan mudah didapat.
  3. Untuk memeram (inkubasi/di imbu) tidak diharuskan menggunakan drum pastik yang mahal (Rp. 150.000,-) tetapi cukup dengan plastic krupuk yang berdiameter 60-100 cm dengan ketebalan 0.5 mm, dengan harga Rp. 12.000,- dan dapat dipakai berulang ulang.
  4. Hasil untuk satu resep pengolahan sangat banyak, yaitu untuk 200 ml starter yang dicampur dengan 45 lt air dapat untuk pakan ternak sebanyak 3 kantong plastic ( 3 drum plastic ) yang dapat menjadi pakan ternak 25 ekor kambing selama 15 hari dan dapat bertahan hingga 4 bulan.
  5. Harga staternya murah yaitu Rp. 15.000,- / liter yang dapat digunakan untuk 5 resep pengolahan.
Seluruh peserta berjumlah 50 orang, yang diikuti oleh warga Jinggan dan Kebonsari, juga diikuti oleh peternak dari berbagai kecamatan seperti dari Tembarak, Candiroto, Kaloran, Gemawang. Sebagai tindak lanjut pelatihan ini adalah akan dilaksanakan studi banding ke Wonosobo untuk melihat kambing hasil fermentasi dan desain kandang yang murah dan terjangkau harganya.



Tempat Pengolahan Sampah Terpadu di Kebonsari

Sejak tanggal 9 Desember 2012, di Kelurahan Kebonsari Temanggung telah diresmikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang berada di sebelah barat lapangan Kebonsari. TPST dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) KEMBANGSARI yang di pimpin oleh Bp. Sunyoto. Keberadaan TPST ini dengan dukungan Pemda Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp. 400.000.000,- yang berupa bangunan, 2 motor herkules, alat pencacah sampah, penyaring sampah dan kelengkapan lainnya. Prinsip pengelolaan TPST adalah mengolah sampah dengan 3 R, yaitu :
  1. REDUCE : meminimalisasi jumlah sampah
  2. REUSE : memanfaatkan barang bekas agar tidak cepat menjadi sampah
  3. RECYCLE : mendaur ulang sampah dengan cara mengolah pupuk organic
Pengolahan sampah dimulai dari rumah tangga yang diberi 2 kantong, 1 kantong untuk sampah basah atau organic, 1 kantong untuk sampah kering. Petugas mengambil sampah 2 hari sekali di masing-masing lingkungan yang dilayani dengan 2 motor herkules yang di operatori oleh Bp. Supangat dan Bp. Sunarto. Sampah diangkut ke TPST, yang kemudia dilakukan pemilahan kembali, yaitu dipisahkan antara sampah organic (sampah daun, sayur, bahan makanan), sampah kering yang bisa dijual (kertas, plastic, botol, besi) dan sampah residu (pecahan kaca, aki bekas) yang tidak bisa dioleh dan dijual. Sampah organic di oleh menjadi pupuk organic dengan cara di cacah dulu dengan mesin pencacah sampah sehingga menjadi potongan kecil (1-2 cm), kemudian di beri starter fermentasi (EM 4) dan dicapur. Sampah organic kemudian dimasukkan dalam bak-bak penampungan dan ditutup rapat sampai 24 hari, dan dapat menjadi pupuk organic dengan harga Rp. 1.000,-/kg. Sedangkan sampah kering dipilah dan dikemas rapi untuk dijual yang berguna untuk menambah biaya operasional. Untuk sampah residu dikumpulkan dan diambil setiap hari oleh mobil sampah DPU untu dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di Kranggan.
Dengan adanya TPA ini diharapkan volume sampah yang di kirim ke TPA makin sedikit, dan sampah dapat member nilai tampah bagi pengelolanya yaitu dari penjualan pupuk dan sampah kering. Selain itu pengolahan sampah di TPST dengan cara fermentasi tersebut tidak menyebabkan bau busuk dilingkungan dan tidak ada lalat di lokasi, sehingga lingkungan kebonsari dapat lebih sehat dan asri.

 
 
 
 
 
 
 


T